Celotehan nahkoda muda tentang pelayarannya
bersandar pada ratusan pelabuhan
hadapi ombak, karang lautan, hingga indah pemandangan
berlayar lintasi samudra tanpa tau kapan ia akan menetap
di depannya duduk nahkoda tua
dengan bekas luka di dadanya
terukir jelas garis kasar di sekujur tubuhnya
buah dari ribuan pelayaran dan pertempuran dengan badai
bersyukur sang nahkoda sudah menemui pelabuhannya
kapal telah bersandar, jangkar telah digelar
tambang sudak terikat kuat
sang nahkoda telah menetap pada pelabuhan terindah di dunia
Hanya senyum tipis yang terlukis pada sang nahkoda tua
kala mendengar celotehan nahkoda muda yang begitu berapi api
'selamat berlayar, selamat mengukir sejarahmu sendiri'
Nahkoda tersenyum bersama segala memori pelayarannya