Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kali ini saya muncul bukan dalam bentuk puisi, namun sebuah tulisan tentang sebuah pilihan hidup. Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari tulisan saya ini.
Setiap manusia di dunia ini akan selalu dihadapkan oleh sebuah pilihan,mulai dari kita bersekolah, memilih menjadi anak baik atau anak yang 'kreatif', menjadi extrovert atau introvert, kemudian beranjak remaja memilih kerja dulu atau kuliah, PTN atau PTS, lalu ketika sudah dewasa, memilih pernikahan seperti apa? Kemudian memilih siapa pasangan yang akan menjadi teman hidup? Dan masih banyak lagi pilihan pilhan hidup dalam perjalanan hidup sorang manusia.
Setiap dari pilihan tersebut, kemudian akan selalu muncul benefit dan resikonya, yang pada akhirnya kita harus memilih pada pilihan mana yang menurut kita akan lebih banyak benefit di dalamnya, dan menerima setiap resiko yang akan muncul setelahnya. Tentu terkadang bukan perkara mudah untuk mengambil keputusan dalam setiap pilihan hidup kita. Untuk itu, Allah menciptakan sebuah fasilitas bagi setiap hambanya yang kesulitan mengambil keputusan. Fasilitas itu dinamakan shalat istikharah. Setiap manusia yang memanfaatkan fasilitas itu, akan diberikan kemantapan hati dalam memilih pilihan. Ini untuk sebuah pilihan yang sama sama baik, namun kita tidak tau pilihan manakah yang terbaik untuk kita.
Lain hal dengan sebuah pilihan yang sudah jelas baik dan buruknya. Sudah jelas benefit dan resikonya. Mungkin akan lebih mudah megambil keputusan jika kita yakin pada Allah sang Maha pencipta. Contohnya memilih tetap berada di dalam islam, benefitnya sudah jelas, kita akan berada pada jalan menuju jannah-Nya, resikonya tentu akan banyak ujian yang datang dari Allah, karena seperti yang tertuang dalam Al-Quran, setiap manusia yang ingin masuk syurga tentu Allah akan uji dengan kesulitan dan kelaparan. Begitupun dengan pilihan untuk berjihad, benefitnya jelas, SYAHID FISABILILLAH, resiko yang akan diterima oleh pada mujahid juga tidak main main, meninggalkan keluarga dirumah, anak, istri, ayah, ibu, dll. Lelah, tekanan batin, takut, belum lagi resiko cacat seumur hidup, hingga kematian. Allah selalu menaruh ganjaran besar dalam setiap pilihan dengan resiko yang besar pula.
Saya mengambil sebuah contoh terbaik tentang pilihan hidup krusial, tak perlu jauh jauh, ini ada di kehidupan ibu dan bude saya. Ibu saya adalah wanita berumur 53tahun, dengan kebutuhan besar menghidupi anak anaknya, yang dengan itu dia harus berdagang, mengurus rumah, hingga mendidik adik saya yang masih SD. Sementara bude saya berumur kurang lebih ±70 tahun, bukan usia yang muda lagi, sudah tergolong renta untuk sebuah kehidupan manusia akhir zaman ini. Ya, perbedaan bude dan ibu saya terpaut cukup jauh, karena bude saya adalah anak pertama, sementara ibu saya adalah anak bungsu. Diumur yang sudah tidak lagi muda, bude masih berjuang untuk mencari rezeki dengan berjualan, dan mengurus rumahnya sendiri.
Dalam usia yang sudah lebih dari setengah abad, dengan tanggungan pribadi yang juga masih ada. Mereka memilih untuk tetap mengurus nenek saya yang berusia ± 97 tahun ditambah penyakit decubitus yang dideritanya. Bagi sebagian orang yang belum pernah melihat atau mengurus lansia mungkin belum tau betapa susahnya mengurus lansia. Saya coba jelaskan rutinitas setiap harinya.
Bude biasanya datang dengan berjalan kaki sejauh ±1km pada pukul 06.00, setelah menyelesaikan tanggungan pekerjaan rumahnya, dan pulang pukul 18.00. Bude dan ibu saya menjadi duet maut mengurus setiap detail kebutuhan nenek mulai dari Memandikan, mencuci pakaian kotor,membersihkan isi popok, mengganti popok, kemudian menyuapi nenek, dan tentu dengan segala dramanya, mulai dari marah, lempar pakaian, meludah, tidak mau makan, teriak-teriak, bahkan tidak sering nenek tidak mau diurusi, karena pikun, jadi tidak kenal kepada anaknya. Persis seperti mengurus anak kecil, namun ini ukurannya jauh lebih besar dan tidak bisa digendong.
Ketika pulang, bude masih harus berjualan, membuka warung hinggal pukul 2-3 pagi, sementara pukul 4.30 biasanya bude sudah bangun untuk beberes dan solat. Sementara ibu, setelah bude pulang, belum habis drama yang dibuat oleh nenek saya, yang paling sering, nenek berbicara sendiri, tidur kemudian terbangun tengah malam dengan lengkingan teriakan yang masih saja bertenaga. Jadi bisa dibayangkan sepanjang malam ibu akan terbangun 4-5x untuk menenangkan nenek. Ini semua dilakukan rutin setiap hari, sambil melakukan aktifitas lain, mengurus adik saya, membuat kue, jualan, dan lain lain.
Karena merasa iba dan kasihan pada ibu saya, pernah suatu kali saya bertanya "kenapa nenek tidak dititipkan saja ke panti jompo?, atau mungkin dibuat bergantian mengurus dengan pakde, bude yang lain" jawaban ibu saya yang kemudian melekat erat dalam hidup saya. Kira kira seperti ini, "Kesempatan berbakti pada mbah itu ga lama, hanya sampai mbah wafat. Ini adalah ladang pahala untuk menuju surga, pintu besar untuk masuk kedalam surga. Ibu gamau menyia- nyiakan kesempatan ini. Ibu mau mengambil jalan terjal ini, lelah, cape, pusing, kurang tidur, semua itu adalah resiko yang sudah ibu ambil untuk memperoleh keberkahan itu, begitupun dengan bude"
Masha Allah, sampai saat ini saya masih merinding ketika mendengar itu. Jawaban ini mengingatkan saya tentang perkataan teman saya yang memilih masuk kedalam kolam dakwah, beliau berkata "umat muslim itu istirahatnya di surga". Ya, dunia memang tempatnya lelah, tempatnya berjuang, untuk beristirahat di dalam surga. Insya Allah.
Ini menjadi pengingat bagi saya tentang perjuangan meraih surga. Kita akan selalu dihadapkan dengan pilihan jalan terjal menuju keberkahan, seperti memilih untuk mempertahankan pernikahan ditengah sulitnya perjalanan rumah tangga, memilih menunda kesempatan memiliki kendaraan sementara kita memiliki kesempatan untuk membelinya dengan riba, memilih untuk berlelah-lelah mengurus anak dengan tangan kita sendiri sementara kita punya pilihan untuk menitipkannya kepada orang tua , memilih untuk memaafkan sementara kita punya hak untuk membalas, dan masih banyak lagi pilihan jalan terjal yang mengantarkan kita pada keberkahan Allah
Sekarang keputusan itu ada di tangan kita, apakah kita memilih untuk mengambil sebuah jalan terjal dengan ganjaran besar, atau cukup dengan hidup lurus mengambil jalan mulus demi kenyamanan diri?
Selamat merenung.